It wasn't supposed to be my competition
"Kenapa bisa sampe pisah, Sa?"
Sekitar 3-4 bulan yang lalu, tiap kali gue mendapatkan pertanyaan itu, gue akan menjawabnya dengan:
"Karena pandemi. Ngga bisa ketemu. Waktu itu belum ada vaksin juga jadi ngga berani keluar. Akhirnya gue kalah deh dengan yang bisa ditemuin tiap hari, hehe"
Ya. Beberapa teman dekat gue mungkin udah pernah mendengar kalimat itu (lengkap dengan "hehe"nya). Jawaban yang gue rasa ngga perlu dijabarin lagi pun udah cukup jelas dan mudah dipahami. Tapi, setelah sekarang udah menerima segala keadaan yang ada setelah sebelumnya masih harus menghadapi rasa sakit, sedih, dan bingung yang bertubi-tubi dan akhirnya bisa berpikir jauh lebih jernih, gue justru mempertanyakan diri gue:
Kenapa gue bilang gue kalah?
Emangnya sejak kapan ini jadi sebuah kompetisi?
Seharusnya gue ngga menyatakan diri gue kalah, karena dari awal harusnya ya ngga ada kompetisi, ngga ada yang menang dan yang kalah antara 2 orang (atau lebih), karena posisinya adalah gue dan dia pada waktu itu udah saling memiliki. Posisi di mana kita ngga perlu buka celah sampe akhirnya terasa jadi ada kompetisi buat memilih siapa yang lebih unggul. Iya dia emang bilang ngga ada seseorang lain sebelum dia memilih untuk berpisah. Gue pun cuma bisa percaya sama omongannya karena gue ngga mau malah jadi fitnah cuma karena ketrigger pengalaman masa lalu dan melihat pola yang serupa. Jawaban gue yang di awal itu juga gue ucapkan saat gue tau siapa yang udah ada di sisi dia saat itu dan mungkin sampai sekarang (melihat jarak waktu yang bagi gue terlalu dekat, gue awalnya percaya mungkin emang butuh waktu secepet itu bagi dia, tapi teman-teman gue bahkan yang cowo pun mayoritas ngga setuju sama pendapat gue :") Jawaban yang sesungguhnya emang hanya dia dan Allah yang tau). Di sini gue cuma mau bilang, andai alasan sebenarnya bukan itu dan emang karena dia berada di suatu pilihan, ya kita tau bahwa seharusnya dari awal ngga ada pilihan macam itu, dari awal harusnya ngga ada kompetisi. At the end of the day, if my man is confused to choose between me and other person, he shouldn't choose me. I shouldn't be a choice in the first place if he is already my man.
Kondisi pandemi ini sulit buat siapa pun, karena semua orang pasti mengalaminya. Tapi, mau sesulit apapun itu, bukan kah seharusnya kita punya batasan saat menghadapi orang lain yang bukan milik kita, sehingga ngga akan ada rasa nyaman yang terbentuk sampe perasaan yang seharusnya tetap ada untuk orang yang udah jadi milik kita malah jadi hilang?
Pernah baca suatu tulisan,
"Even if I had a million reasons to leave you, I would still look for one to stay"
Relatable banget ngga sih? Walau kita mungkin punya jutaan alasan untuk pergi, kita bisa mencari cukup 1 alasan aja untuk bertahan. That's the craziest thing of love. Tapi, kondisi itu juga bisa dibalik. Saat kita punya jutaan alasan untuk bertahan, cukup cari 1 alasan aja untuk pergi dan lalu kita pergi.
Mungkin, pada kasus ini, kalo emang alasannya adalah bener-bener sesuai dengan apa yang dia ucapkan waktu itu, gue memilih pilihan yang pertama, tapi dia memilih pilihan yang kedua..
Nope. Gue ngga menyalahkan semuanya ke dia. Selama kita bersama-sama, kita pasti punya kesalahan masing-masing. Daripada gue memilih untuk menyalahkan orang lain dan bikin penyakit di dalam diri sendiri, lebih baik gue menyalahkan diri sendiri aja karena terlalu percaya orang lain.
Toh kan, pada akhirnya, ternyata dia ngga se-serius itu. Dia yang dari awal sempet bilang ngga mau nyari orang lain karena udah mau serius ke gue aja, pada awalnya gue respon ngga lebih dari sekedar teman. Sampe akhirnya, dia selalu bahas pernikahan, keseriusan, selalu memasukkan diri gue di dalam plan masa depannya dsb sekaligus nunjukin usahanya untuk mewujudkan itu dan gue pun akhirnya luluh, membuka hati dan percaya. Eh pada akhirnya, saat gue yakin dan gue kira kita udah saling menjaga hati dari awal sampe saat terakhir, ternyata dia ngga seserius itu. Kok jahat gue bilang dia ngga serius? Ya karena, kalo dia emang se-serius itu, pada situasi sesulit apapun, he would always look for that one reason to stay, like what I always try to do this whole time, but he left instead of doing that..
Mungkin kalo gue dari awal tetap merespon dia ngga lebih dari sekedar teman, gue akan tau tentang keseriusan dia lebih awal ya, karena dia pasti harus nunjukin effort yang jauh lebih besar lagi. Kalo emang ngga serius kan pasti akan nyerah dari awal haha pada akhirnya, keseriusan yang paling nyata untuk hal ini tuh emang cuma saat seseorang mendatangi orang tua kita dan membicarakan maksud kunjungannya terlepas dari apakah masih lama atau ngga (karena setidaknya dia jadi ada rasa tanggung jawab sama omongannya).
Tapi yaudah ngga apa-apa, semua udah terjadi. Our journey was lovely and fun. Gue bersyukur karena dia pernah jadi orang yang ada di sisi gue membuat hari-hari gue berwarna dan bahkan ngga ninggalin gue di masa-masa terpuruk gue. Sekarang gue mengalami kondisi gini juga ngebuat gue belajar banyak hal, thanks to him.
Gue nulis ini bukan berarti karena gue gagal move on atau masih ada di kesedihan. Ngga kok. We can't just forget those painful memories, right? But only the memories, as they were there for us to learn and grow. The pain? It will fade away until it's completely gone.
Comments
Post a Comment