We'd never know the struggle they have

Bukankah kita terlalu sok tau, saat kita menganggap orang lain belum berdamai dengan masa lalunya?
Padahal dia bahkan ngga berucap apa-apa.

People tend to jump into conclusion that someone is still not over their past just because they tell you a story with emotions.
People tell you their breakup story while crying? Oh they haven't moved on from their ex, that's why they're still single.
People tell you their toxic ex-workplace story and now still haven't gotten a new job? Oh they must be still not over it, they must be having unreasonable high standards, that's why they're still jobless.
People tell you their toxic friendship story and now have only a few friends? Oh if they already overcome that, they wouldn't be this picky.

Padahal belum tentu keadaannya yang sekarang tuh karena mereka belum selesai sama masa lalunya, selesai sama traumanya.
Apapun hal yang ngga enak yang pernah dialami tentu akan mempengaruhi pola pikir dan keputusan yang diambil seseorang, tapi bukan berarti mereka belum move on, atau setidaknya berusaha move on dari itu.
Saat seseorang punya trauma, ngga selalu itu karena salah mereka, karena beberapa hal emang terjadi di luar kendali. Yang ada di dalam kendali ya perjalanan berdamai dengan trauma itu, karena itu adalah pilihan dan tanggung jawab diri sendiri.  

You never know what someone is going through until you walk in their shoes, but we will never walk in their shoes anyway.
Each story might only be similar, but will never be the exact same.

Kalo ada orang yang nyeritain tentang pengalaman pahitnya bersama mantan kekasih, lingkungan tempat kerjanya dulu, mantan rekan kerja, dsb, terus dia jadi sangat pemilih, gampang ngecut orang di hidupnya, gampang ketrigger sama sesuatu, ya itu karena dia punya pengalaman di situasi dan perlakuan tertentu dan pastinya kita ngga mau ngalamin hal ngga enak yang sama untuk kedua kalinya dong, jadi pasti akan lebih mudah aware.

Kalo ada seseorang dalam kondisi udah sepenuhnya pulih dan tutup buku masa lalunya, bukan berarti dia selalu bisa menceritakan pengalamannya itu dengan muka sumringah dan haha hihi sambil cerita.
Kalo pun dia cerita dengan tenang dan biasa aja, belum tentu dia 100% sudah damai.

So who are we to judge them? 

Cerita sedih akan selalu menjadi cerita sedih, makanya ya wajar aja kalo orang akan tetep nangis walau udah nyeritain itu berkali-kali.
Ya sama aja kalo kita nonton film sedih berkali-kali, ada kemungkinan kita tetep nangis di part tertentu walaupun kita sebenernya udah tau scene itu kan?
Kalo dia bisa nyeritain pengalaman ngga enaknya dengan senyuman dan semangat, ya berarti it's good untuk dia, we should appreciate that.

Gue rasa, daripada mikirin dia udah berdamai atau belum sama masa lalunya, it's better for us to feel honored that they tell us their story.
Bukan hal yang mudah loh untuk nyeritain hal ngga enak ke orang lain, karena berarti orang itu harus 'membuka' luka lama yang kita bahkan ngga tau lukanya udah kering atau belum.
Jadi saat mereka memutuskan buat cerita ke kita, harusnya kita merasa berterimakasih karena berarti mereka percaya buat cerita itu ke kita.
Kalo pun penasaran apakah mereka masih belum selesai dengan masa lalunya itu, we can simply ask them nicely, tanya sekarang gimana kondisinya, gimana sekarang kalo inget hal itu, apa masih kerasa sakit, atau lainnya. OR just shut our mouth up and focus only on becoming their listener at that moment.
Kesoktauan kita apalagi kalo kita sampaikan ke orangnya tanpa dia minta, bisa bikin orang yang sedang struggle dengan proses berdamainya jadi makin ngga bisa berdamai dan selalu takut untuk mengambil langkah.

Ada orang yang harus 100% berdamai dulu baru bisa buka lembaran baru, ada orang yang buka lembaran baru sambil pelan-pelan berprogress untuk damai.
Ngga ada yang lebih bener atau lebih salah, we have our own way that suit us the best.

So, please watch your mouth and always be kind.

Comments

Popular posts from this blog

It will be very long..

It wasn't supposed to be my competition