So..
Kali ini mau nulis tentang orang yang waktu itu pernah gue tulis di sini, yang padahal awalnya ngga mau gue tulis tapi pada akhirnya ditulis juga itu (lol).
Maybe this is so far the longest conversation I have with someone whom I know through online apps.
Udah sekitar 2 bulan kita selalu chatan?
Ngga selalu intens memang, tapi kayaknya bener-bener tiap hari ada setidaknya 1 chat?
Sayangnya, gue cuma tau nomor hp dia aja, ngga tau sosmed lainnya.
Pernah nanya ig, tapi katanya udah ngga aktif.
Twitter pun katanya dia cuma lihat-lihat aja tapi udah ngga pernah ngetweet, jadi yauda ngga ada yang bisa difollow.
Ya cukup disayangkan aja sih soalnya gue jadi ngga tau apa-apa selain apa yang dia ceritakan aja.
Eh maksudnya ya kan kadang kita bisa tau apa yang lagi dilakuin, lagi kemana, dll dari updateannya seseorang gitu kann tanpa harus ditanya/ngasih tau.
Nah ini gue ngga tau apa-apa yang terjadi di dia gitu lohh paham ngga sih wkwk.
Tapi mungkin plusnya adalah, kalo suatu saat percakapan kita berhenti, ya gue ngga akan tau apa-apa lagi berarti ya, ngga akan berakhir hanya menjadi "viewer story". It would be the end of us, completely.
Ini mungkin gue emang sok tau, tapi gue merasa dia itu cenderung ada on-off mode, if that makes sense.
Dan pada saat gue nulis ini, gue rasa dia lagi mode offnya.
Semenjak move dari apps ke WA dan setelah ketemu, percakapan kita memang ngga seintens saat awal awal kita kenalan, but the conversation is still going.
Tapi pas awal kenalan emang terlalu intens sih, kayak kita bales chat cepet banget dan banyak banget gitu wkwk.
Kenapa gue bilang pada saat gue nulis ini gue merasa dia lagi di mode off, ya karena gue merasa percakapan kita makin jarang aja. Jarak antar chat jadi makin jauh.
Hmm, mungkin, mungkin aja nih ya,
There's a lot going on in his life right now, or
He's starting to lose the interest, or
He's already bored and starting to be tired listening to my stories.
Tapi itu cuma kesoktauan gue aja sih haha.
Lagian, kalo ngomongin tentang on-off mode, aren't we all have it?
Jadi emang bukan sesuatu yang gimana-gimana.
BUT, somehow I found myself waiting for his replies, and it's not only once..
And found myself worrying that if I only replying with a simple reply such as "iyaaa" "wkwkwk", then there will be no conversation anymore.
Tapi sebenernya dulu udah pernah, 2 kali apa ya gue cuma bales iyaa atau ketawa aja, dan pada saat itu gue kayak udah beranggapan kalo akan berakhir ya dengan cuma diread dan ngga ada lanjutannya lagi.
Eh ternyata, walau mungkin hampir seharian ngga ada obrolan lagi, abis itu gue tetep dichat karena dia ngasih tau sesuatu.
Jadi mungkin gue akan coba ngelakuin itu lagi? Karena di satu sisi gue juga ngga mau maksain percakapan yang sebenernya udah ngga mau dilanjutin.
Gue rasa gue terlalu egois kalo menginginkan percakapan kita terus berlanjut, apalagi kalo keinginan itu cuma berasal dari gue.
Bahkan gue sebenernya udah merasa egois, karena gue dengan enaknya apa-apa langsung cerita ke dia seakan udah yakin kalo dia emang akan selalu mau menyimak cerita gue..
I don't even chat with my close friend daily, bahkan bisa 2 bulan sekali aja. The last time I talk with a person daily, it was my ex. Makanya itu gue merasa kok gue bisa seenaknya gini ya menganggap seseorang tuh mau ngobrol sama gue tiap hari?
Even my ex (maybe) got fed up with me back then? lol.
Btw, ini ada kesotktauan gue lagi.
Entah kenapa, gue merasa emang dia belum bisa terbuka ke gue.
Mungkin gue udah pernah diceritain beberapa ceritanya, tapi tetep aja gue ada feeling kalo dia belum sepenuhnya terbuka.
Entah karena ngga percaya, atau belum percaya, atau emang dia belum bisa percaya buat ngebuka dirinya lagi terlepas siapa pun orangnya.
If it's something related to his past, then me as a stranger has nothing I can do since I don't know the story.
If he has trouble opening up because of what happened in the past, I can only wish that he will overcome it well.
And deep down, gue berharap gue bisa jadi orang yang bisa bantu dia ngebuat dia bisa ngebuka dirinya lebih lagi.
Tapi tentang siapa yang bisa jadi sosok itu, ya cuma dia yang bisa menentukan sih, the only thing I can do is being myself.
Everyone has traumas, so I have no right to judge someone.
Toh, balik lagi, ini cuma kesoktauan gue based on feeling aja haha.
I know I tend to rush things when it comes to a feeling like this.
Remember the thought I have, that the time I feel attached to someone is the time I ruin whatever 'we' had? Somehow, I'm still having this kind of thought.
And by rushing things, I tend to confess to that person because I don't want to keep this kind of feeling, just want to let it go right away.
But the price for that is the probability that me and the person won't be able to talk like the usual.
I'm so impatient, aren't I?
Ngomongin tentang trauma, gue pun ya tentunya punya trauma, yang bahkan tanpa sadar, hal-hal yang gue terapkan itu ya karena ada hubungannya dengan trauma.
Gue rasa, dulu gue orangnya tuh ngga sebold itu, lebih cenderung ke yauda diem aja liat gimana ngalirnya.
Tapi sekarang? Temen gue bahkan sempet heran melihat betapa beraninya gue, lol.
Contohnya, gue rasa sih gue sering ngomong, termasuk ke dia, kalo emang dirasa udah males atau ngga mau lanjut ngobrol lagi mending bilang terus terang aja daripada ngebales cuma karena formalitas dan sungkan because I don't want to talk to people who are no longer interested in talking to me.
Gue rasa gue sering ngomong ini ke dia deh. Mungkin karena gue juga kaget kok obrolan kita bisa lama?
Maaf ya kalo jatohnya jadi kayak terlihat annoying (dan insecure?)..
Kalo diinget-inget, gue yang dulu mana pernah kayak gini, berani ngomong terus terang kayak gitu. Tapi ya, gue rasa apa yang terjadi di masa lalu gue sangat berperan di sini. I'm being like this because I don't want to feel what I felt in the past in the name of "ngga tega" (tapi pada akhirnya jadi lebih tega malah yang dilakukannya wkwk).
Btw, gue jadi inget momen di mana gue ngira gue diblock HAHAHA.
Soalnya tuh tiba-tiba foto profilnya ngga ada, dan pada saat itu ngga ada chat yang bisa gue respon buat mastiin ini beneran diblock atau ngga.
Nethink banget ya gue langsung ambil keputusan gitu WKWK tapi ternyata ngga diblock karena abis itu ada chat masuk dari dia.
Udah gitu, gue terang-terangan bilang pula kalo gue kira gue diblock wkwkwkwk.
Dan kayaknya di hari itu juga, dia ngehapus akun di apps online itu.
Ngelihat 2 kejadian itu, gue lebih ke mikir takut dia lagi kenapa-kenapa, lagi ada yang terjadi gituu. Untungnya ngga ada apa-apa sih katanya.
Oh dan btw, gue tuh sebenernya udah ngga main apps itu lagi, karena gue tuh ngga bisa banget ngobrol kenalan sama orang baru lebih dari satu di waktu yang bersamaan wkwk.
Jadi udah cenderung ngga pernah dibuka, tapi belum gue uninstall.
Kenapa ngga di uninstall?
Karena kayak sayang aja nanti percakapan gue sama dia hilang.. gatau kenapa ya merasa sayang aja gitu.. mungkin karena obrolan kita seru sihh.
Padahal dianya juga udah delete account, berarti (mungkin) udah ngga main itu lagi juga..
Dan tau apa yang gue lakukan?
Beberapa hari kemaren, gue screenshot semua chat kita di sana HAHAHA.
Jujur ya itu ada banyaaak banget, bener-bener takes time buat ngescreenshotin doang :') but i did it!
Sebenernya tuh gue awalnya ngga mau ngelakuin itu, karena kalo gue nyimpen-nyimpen percakapan gitu, entah kenapa bagi gue tuh kok kayak seakan-akan cuma bisa dikenang aja yah? Seakan-akan itu akan menjadi hal yang dikangenin, karena udah ngga terjadi lagi (ngobrolnya)?
Makanya sempet ragu buat ngescreenshotin hahaha tapi pada akhirnya tetep gue lakuin sih ya.
Jadi, mari kita lihat, apakah screenshotan-screenshotan ini akan menjadi hal yang cuma bisa jadi kenangan karena udah ngga terjadi lagi untuk kemudian dihapus, atau hal yang bisa dikenang bersama?
It's time to finally uninstall the app, maybe?
The thing is..
I don't know if I see him as a friend, or as a man? I can't tell it.
But what I know, is that I enjoy our talks.
Nyambung gitu loh obrolannya, dan gue merasa selalu ada rasa antusias yang sama di antara kita.
Gue tau gue orangnya selalu adaaa aja yang diceritain, so not everyone can handle that, haha.
Entah kenapa gue tuh bisa ada feeling yang bikin gue bisa ngeh, mana orang yang dengerin cerita gue sebagai bentuk menghargai aja, dan mana orang yang dengerin cerita gue karena emang antusias dan tertarik buat dengerin.
Dan gue merasa, untuk kali ini, I got myself a very good listener, yang (mostly) tertarik buat nyimak.
Dan menurut gue, hal ini jauh lebih penting daripada mikirin if I'm seeing him as a friend or as a man
And also, since I'm even younger than his sister, I think he might see me only as a sister.
I tend to rush things and become so impatient,
But this time, I feel like I have to be patient.
Cause I don't want to lose the friendship we have--if only he consider me as a friend--, it's not easy to find someone like him.
I may be telling my stories to everyone, but I can only tell certain stories to people I trust.
And I feel like he is someone I can trust.
I feel like I have to be patient until he can open up to me?
It's not about the feeling, I feel like what I want is to keep him in my life, cherishing what we have, having fun and enjoy the friendship for now, and let the universe decides the purpose of this; to be a person that will be kept in my life, or just someone that will teach me a lesson and then go away?
Since I'm having fun with this, so let's not ruining this or worrying about the unknown and just enjoy the moment.
Comments
Post a Comment